Nilai Profetik Menjaga Lingkungan



Download makalah disini


Pada era globalisasi saat ini mulai terkikis rasa kemanusiaan, semangat religius, serta kaburnya nilai-nilai kemanusiaan sehingga timbul kekhawatiran pada setiap manusia akan terjadi penurunan nilai etik dan moral, sehingga akan semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Untuk mengatasi pendidikan yang sudah mengalami distorsi, maka kode etik dan moral harus diberdayakan sehingga kehidupan kembali ke tampak wajah aslinya yaitu wajah kemanusiaan.
Hancurnya rasa kemanusiaan, perubahan sosial yang sangat cepat, proses transformasi budaya yang semakin meraksasa, perkembangan politik yang universal, kesenjangan ekonomi yang semakin melebar, dan terkikisnya semangat religius serta kaburnya nilai-nilai kemanusiaan merupakan kekhawatiran manusia paling puncak dalam kancah pergulatan global ini. Tataran kehidupan sudah mengalami perubahan yang sangat mendasar, kapitalisme jaya berdasarkan pada landasan mekanik yang pada akhirnya hanya melahirkan manusia robotik, pintar dan terampil tapi tidak religius, sehingga tidak lagi memerlukan dukungan agama. Kenyataan hidup sudah semakin jauh dari kemanusiaan, dikarenakan semakin jauh jarak manusia dengan nilai-nilai sakral religius, sehingga  perlu dikembangkan nilai etik dan moral sehingga kehidupan kembali menampakkan wajah kemanusiaan.
Karena sudah mulai menurunnya nilai etik dan moral, sehingga lingkungan sudah tidak lagi diperhatikan. Lingkungan sudah dibuat menjadi lahan dan modal untuk perdagangan sehingga dapat merusak lingkungan itu sendiri. Maka dari itu sangat pentingnya ditanamkan nilai profetik pada setiap individu. Oleh sebab itu, makalah ini akan membahas tentang bagaimana nilai profetik menjaga lingkungan?, yang akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.
A.    Rumusan Masalah
Yang menjadi rumusan masalah pada pembahasan ini seperti yang telah dipaparkan pada latar belakang di atas adalah bagaimana nilai Profetik menjaga lingkungan yang meliputi:
1.      Apa itu nilai profetik?
2.      Bagaimana pendidikan islam profetik?

3.      Bagaimana menjaga lingkungan berdasarkan nilai profetik?

Etika Kepemimpinan ditubuh HMI Saat Ini

HMI adalah organisasi mahasiswa Islam yang lahir dari ‘rahim’ Indonesia merdeka yang sedang berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan melalui revolusi kemerdekaan. Pada saat yang sama, para “founding fathers” HMI juga diinspirasi dan dimotivasi oleh esensi dasar ajaran Islam yang mengandung nilai-nilai luhur kemanusian, menunjung tinggi kemerdekaan dan keadilan. Latar belakang ini-lah yang membentuk watak dasar atau jati diri HMI yang memiliki komitmen keindonesiaan dan keislaman sekaligus.

Sebagai organisasi mahasiswa, fungsi yang paling pas dijalankan oleh HMI adalah sebagai organisasi kader. Proses kaderisasi HMI secara esensial adalah proses pematangan, pendewasaan, penanaman nilai-nilai, pembudayaan dan pencerahan manusia. Kaderisasi juga merupakan proses investasi manusia (human investment). Kaderisasi dalam pengertian dan dimensi yang luas adalah inti dan ruh dari kegiatan-kegiatan HMI dalam rangka menghasilkan sosok manusia Muslim yang memiliki karakter kecendekiawanan, keilmuan, profesionalitas, dan kepemimpinan bagi umat dan bangsa. Mereka inilah yang mengembang tanggungjawab dan tugas suci (mission sacre) untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam yang universal. Dalam konteks ini, Islam adalah sumber nilai, sumber inspirasi dan sumber motivasi dalam perjuangan mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan. “Ideologi” HMI bersumber dari nilai-nilai esensial Islam yang universal.
Kader HMI tidak bisa terlepaskan dengan ummat sekalipun ia organisasi mahasiswa, karena tujuan awal lahirnya HMI itu sendiri, untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mensyiarkan ajaran Islam. Jadi HMI akan selalu bergandengan dengan masyarakat atau ummat untuk mencapai tujuan organisasi itu, salah satu faktor kemunduran HMI disebabkan kader HMI jarang membuat aktivitas yang melibatkan masyarakat, [1] sehingga kita tidak heran jika ada masyarakat yang tidak mengenal HMI sekalipun HMI termasuk organisasi tertua di Negara yang kita cintai ini, yaitu Indonesia.

Jika kita lihat latar belakang mulanya berdiri organisasi mahasiswa ini, tidak lain untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mempertinggi derajat ummat Islam. Tujuan dasar inilah yang selalu membuat kader HMI merasa bertanggung jawab untuk mengemban missi itu, secara sederhana jika kita lihat para kader HMI sudah berada di segala sisi, mulai dari, Pegawai, Pengusaha, Dosen, dan lain sebagainya. Semua itu diharapkan untuk bisa mencapai missi HMI sendiri. [2]

Tanggungjawab kader HMI untuk menjaga nama baik negara ini sangat besar, sehingga tidak ada kata tidak bagi kader HMI lari dari tanggungjawab itu, sebab kader HMI mempunyai tanggung jawab yang berat yaitu sebagai kader ummat dan kader bangsa.

Hari ini masalah kader HMI menjadi perbincangan yang tidak habis-habis oleh masyarakat maupun di dalam internal HMI sendiri. Sering sekali kader HMI bersikap anarkisme ketika ia dihadapkan dengan masalah dan kekecewaan, termasuk ketika berlangsungnya kongres.  Dinamika kongres HMI dalam beberapa tahun terakhir bukan saja keras namun juga rusuh. Hampir di setiap kongres HMI terjadi kerusuhan. Kerusuhan bisa dibilang menjadi tradisi baru di kongres HMI.

Maka timbul pertanyaan dalam benak penulis apakah penyebab terjadinya kasus-kasus seperti di atas. Perlu dipikirkan, pada hakikatnya pernan Kepemimpinan sangat urgen dalam mengontrol prilaku kader HMI, sehingga ia bisa mengontrol hawa nafsunya dan bukan dikontrol hawa nafsu itu sendiri.

Dari latar belakang  yang telah dikemukakan maka dapat dibuat rumusan masalah dalam pertanyaan sebagai berikut:

1.      Apakah adanya relevansi sejarah terhadap etika kepemimpinan ditubuh HMI : belajar dari suksesi kongres HMI ke-28 dan 29 ?

Download Makalah Disini

Fungsi dan Peran HMI

Fungsi dan Peran HMI

BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Semenjak terlahir ditanah pertiwi, HMI merupakan salah satu organisasi yang peduli antar sesama bahkan satu-satunya organisasi yang slalu berkomitmen untuk menyuarakan kebenaran dan membela masyarakat lemah
Dan selama itu pula HMI telah banyak mengoreskan tinta-tinta emasnya perjuanganya lewat para kader-kadernya melalui kekuatan fisiknya saat mempertahankan NKRI dari para komunis, kolonialis dan antek-anteknya hingga gagasan-gagasan baru para kader dalam menjawab permasalahan sosial yang melanda masyarakat. Oleh karna itulah, fungsi dan peran HMI yang sangat vital dalam masalah keislaman, keumatan, kekebangsaan.
Nampak dari fungsi dan perannya selama ini dalam masalah keislaman yang ditandai dengan munculnya ideologi-ideologi perjuangan HMI. Tercatat HMI telah memiliki 11 naskah atau dokumen sebagai ideologi doktrin perjuangan, dari 11 dokumen naskah NDP(nilai-nilai dasar perjuangan) lahir sebagai ideologi doktrin perjuangan sebagai pegangan kader HMI yang merupakan perwujudan dasar-dasar keislaman dalam setiap perjuangan. Dalam masalah keumatan, HMI telah membuktikan dirinya sebagai sebagai wadah yang menciptakan kader-kader yang peduli sesama makhluk ciptaan, yang sesuai dengan fitrah nya. Dalam masalah kebangsaan, HMI ikut serta dalam mempertahankan NKRI dari antek-antek kolonialis, komunis dan kawan-kawanya.
2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis membatasi ruang masalah agar lebih terarah. Pembatasan tersebut ialah
1.      Bagaimana fungsi dan Peran kader HMI sejak dulu hingga sekarang
2.      Prospek HMI ke depan













BAB 2
PEMBAHASAN
“ FUNGSI dan PERAN KADER HMI dalam MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN”
1. FUNGSI HMI
HMI berfungsi sebagai Organisasi Kader (pasal 8 AD HMI)
HMI sebagai organisasi kader adalah organisasi mahasiswa yang berorientasikan Islam yang melakukan perkaderan, dimana seluruh aktivitas yang dilakukan pada dasarnya merupakan proses kaderisasi, sehingga HMI berfungsi dan hanya selalu membentuk kader-kader muslim intelektual yang profesional.
Dalam Anggaran Dasar, Pasal 8 dikatakan bahwa "HMI berfungsi sebagai organisasi kader". Dalam pedoman perkaderan dikatakan bahwa, Kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. Hal ini dijelaskan dalam ciri-ciri komulatif seorang kader HMI, yaitu: Pertama, seorang kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi, mengenal aturan-aturan main organisasi dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera pribadi. Dari segi nilai, aturan itu adalah NDP, sedang dari segi operationalisasi organisasi adalah AD/ART HMI, pedoman perkaderan, dan pedoman serta ketentuan organisasi lainnya. Kedua, seorang kader memiliki komitmen yang terus menerus (permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan istiqomah (konsisten) dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran. Ketiga, seorang kader memiliki bobot yang dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar. Jadi fokus penekanan kaderisasi adalah pada aspek kualitas. Keempat, seorang kader memiliki visi dan perhatian yang serius dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan social engineering.
Sedang dalam Pasal 9 Anggaran dasar disebutkan "HMI berperan sebagai organisasi perjuangan". Sebagaimana di atas, baik secara organisatoris maupun etis adalah kewajiban bagi kader HMI untuk komit terhadap Islam dan HMI adalah alatnya, alat perjuangan untuk mentransformasikan nilai-nilai ke-Islaman yang membebaskan (liberation force), dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum miskin (dhu’afa) dan kaum tertindas (mustradzafin). Perubahan bagi HMI merupakan keharusan, demi tercapainya idealisme ke-Islaman, maka HMI bertekad menjadikan Islam sebagaiu doktrin yang mengarahkan pada peradaban secara integralistik, transendental, humanis, dan inklusif. Dengan demikian Kader-kader HMI harus berani menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilanserta prinsip-prinsip demokrasi tanpa melihat perbedaan keyakinan dan mendorong terciptanya penghargaan Islam sebagai sumber kebenaran yang paling hakiki.
Jelaslah kiranya bahwa dalam rumusan tujuan HMI yang tadi kita katakan terbagi dua yakni "insan cita" dan "masyarakat cita" secara eksplisit berbicara tentang fungsi perkaderan dan peran perjuangan. Dan tujuan HMI tidak akan pernah tercapai bila dalam prosesnya tidak sinambung antara keduanya. Fungsi dan peran adalah dua sisi mata koin (two side of coin) tujuan. Bahwa mustahil ada perubahan ke arah yang benar, kalau kesalahan berpikir masih menjebak benak kita. maka akan terasa hambar berbicara sosial jika masalah personal masih saja menggerogoti kita. Dalam bahasa kita sehari hari, internalisasi dahulu baru ekternalisasi atau obyektifikasi, pengabdian mengharap ridho-Nya.
Dan akhirnya, tujuan jelas diperlukan oleh suatu organisasi sehingga setiap usahanya yang dilakukannya dapat dilaksanakan secara terencana, teratur, terarah dan sistematis. Bahwa tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh motivasi dasar pembentukannya, status, sifat, fungsi dan perannya secara integral dalam totalitas dimana ia berada.
Islam bagi HMI adalah sebagai sumber nilai, motivasi, inspirasi. Keyakinan akan kebenaran Islam menjadikan HMI secara sadar memilih Islam sebagai asasnya (vide Pasal 3 AD). Oleh karenanya Islam bagi HMI merupakan pijakannya dalam menetapkan tujuan. Status HMI sebagai organisasi mahasiswa (vide Pasal 7 AD) memberi petunjuk dimana HMI berspesialisasi. Spesialisasi inilah yang disebut dengan fungsi HMI yakni sebagai organisasi kader (vide Pasal 8 AD), karena mahasiswa adalah kelompok elit dalam totalitas generasi muda yang harus mempersiapkan diri dalam menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa dan generasi yang akan datang. Maka fungsi kaderisasi mahasiswa merupakan fungsi yang paling pokok. Sebagai kelompok elit, mahasiswa memiliki tanggung jawab yang besar, karena itu dengan sifat dan wataknya yang kritis, mahasiswa kemudian berperan sebagai moral force yang senantiasa melaksanakan fungsi social control. Untuk itu, mahasiswa harus bersikap independent dan hanya berpihak pada kebenaran dan keadilan serta obyektifitas. HMI yang melakukan fungsi kaderisasi mahasiswa pun harus menjiwai dan dijiwai sifat independen (vide Pasal 6 AD). Fungsi kaderisasi dalam membentuk apa yang disebut HMI sebagai insan cita (insan kamil ala HMI) tidak lain adalah upaya untuk mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya, yakni kehidupan yang seimbang dan terpadu antara jasmani dan ruhani, akal dan kalbu, individu dan masyarakat, iman dan ilmu, demi mencapai kebahagiaan di dunia dan ukhrowi. Demi mencapai kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya itu, maka dibutuhkan sebuah kerja kemanusiaan (amal shaleh), yang tertuang dalam peran HMI sebagai organisasi perjuangan (vide Pasal 9 AD), yakni peran yang diemban dalam melakukan internalisasi, eksternalisasi maupun obyektifikasi nilai-nilai ke-Islaman. Dan kerja kemanusiaan ini akan terlaksana dengan benar dan sempurna apabila dibekali dan didasari oleh iman dan ilmu pengetahuan. Karena inilah hakekat tujuan HMI tidak lain adalah pembentukan manusia yang beriman dan berilmu serta mampu menunaikan tugas kerja kemanusiaan (amal shaleh). Pengabdian dalam bentuk kerja kemanusiaan inilah hakekat tujuan hidup manusia, sebab dengan melalui kerja kemanusiaan, manusia mendapatkan kebahagiaan.
2. PERAN HMI     
HMI berperan sebagai Organisasi Perjuangan (pasal 9 AD HMI)
HMI sebagai organisasi perjuangan adalah organisasi yang selalu berjuang melakukan dan membentuk kader bangsa yang muslim, intelektual, dan profesional dimana outputnya ditujukan untuk kepentingan bangsa secara keseluruhan, sehingga insan HMI siap dan dapat bermanfaat bagi seluruh golongan yang ada di masyarakat selama tidak bertentangan dengan koridor misi HMI.
Dalam perjuangannya hmi terbagi dalam beberapa fase.
A. HMI dalam Fase Perjuangan Fisik
HMI ikut berjuang dalam perjuangan fisik ketika terjadi pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948. Pemberontakan tersebut bertujuan mengambil alih kekuasaan pemerintahan yang sah dan ingin mendirikan “Soviet Republik Indonesia”. Menghadapi hal tersebut, HMI menggalang seluruh kekuatan mahasiswa dengan membentuk Corps Mahasiswa. Selama waktu krisis tersebut anggota HMI terpaksa meninggalkan bangku kuliah untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pengkhianatan PKI, selain itu HMI pun terlibat dalam perjuangan fisik menghadapi agresi militer Belanda. Sebagai nak umat dan anak bangsa, HMI selalu ikut dalam perjuangan fisik demi mempertahankan negara Republik Indonesia. Dalam mempertahakan NKRI, anggota-anggota HMI mengganti pena dengan memanggul senjata, HMI merasa ikut bertanggung jawab dalam mempertahankan kedaulatan NKRI. HMI berkeyakinan bahwa dalam masyarakat yang berdaulat dan merdeka akan tercipta keadilan dan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu HMI selalu berusaha untuk memperthankan dan mempersatukan bangsa.
B. HMI dalam Fase Pertumbuhan dan Konsolidasi Bangsa
Saat HMI baru saja berdiri, terjadi pemberontakan PKI di Madiun yang merupakan ancaman terhadap kedaulatan bangsa, umat Islam, dan HMI sendiri. Kekuatan PKI ini makin memuncak pada era 60-an, PKI menjadi salah satu kekuatan sosial politik besar di Indonesia. Posisi HMI saat itu adalah menentang ajaran komunis dan mengajak semua pihak yang ada untuk menentang komunis. Persoalan komunis bukan hanya persoalan bangsa dan negara, tetapi juga persoalan HMI, akibat sikap HMI tersebut maka PKI menempatkan HMI sebagai salah satu musuh utama yang harus diberangus. HMI menggalang konsolidasi dengan semua pihak yang non komunis, karena komunis bertentangan dengan dasar negara, yaitu Pancasila. Selain itu PKI selalu berusaha untuk merebut pemerintahan dan kekuasaan yang sah. Untuk menghadapi pemilu 1955, HMI mengadakan Konferensi Akbar di Kaliuarang Yogyakarta paa tanggal 9 – 11 April 1955, keputusan yang diambil adalah :
1) Menyerukan kepada khalayak ramai untuk memilih partai-partai Islam dalam pemilu yang akan datang
2) Menyerukan kepada partai-partai Islam supaya mengurangi keruncingan keruncingan, tidak saling menyerang
3) Kepada warga dan anggota HMI supaya :
a) Wajib aktif dalam pemilu
b) Wajib aktif memilih salah satu partai Islam
c) Mempunyai hak dan kebebasan untuk membantu dan memilih partai Islam yang disenangi Dalam menghadapi sidang pleno Majelis Konstituante, PB HMI mengirimkan seruan kepada seluruh anggota fraksi partai-partai Islam di konstituante agar dapat memikul amanah umat Islam di Indonesia. Ketika Demokrasi Terpimpin berjalan, HMI mendapat tekanan kuat, karena ada tuduhan bahwa HMI kontra revolusi, dan lain-lain. Oleh karena itu HMI menggelar Musyawarah Nasional Ekonomi HMI se-Indonesia di Jakarta pada tahun 1962. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepada HMI saat itu menyangkut sikap yang diambil HMI, yaitu
(1) Apakah HMI mendukung Manipol/Usdek atau tidak ?
(2) HMI setuju pancasila atau tidak ? dan
(3) HMI setuju sosialisme Indonesia atau tidak ?
Munas memberikan jawaban sebagai berikut :
1) Ya, HMI mendukung Manipol/ Usdek sebagai haluan negara yang ditetapkan oleh MPRS
2) Ya, HMI setuju Pancasila yang merupakan rancangan kesatuan dengan Piagam Jakarta
3) Ya, HMI setuju sosialisme Indonesia, yaitu masyarakat adil makmur yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa Dengan melakukan pendekatan-pendekatan itu maka HMI dapat terselamatkan, isu dan tuduhan yang dilancarkan terhadap HMI tidak berhasil untuk mengubur HMI dalam percaturan sejarah.
C. HMI dalam Transisi Orde Lama dan Orde Baru
Tahun 1965, HMI mengalami tantangan yang berat, HMI terancam dibubarkan, dan lagi-lagi HMI lulus dalam ujian sejarah sehingga HMI dapat mempertahankan eksistensinya hingga saat ini (entah esok hari, entah lusa nanti, entah……). HMI adalah salah satu komponen bangsa yang menentang faham dan ajaran komunis, sedangkan PKI saat itu merupakan kekuatan sosial politik yang besar di negara Republik Indonesia. PKI berkeinginan untuk membubarkan HMI karena merupakan salah satu musuh utamanya, usaha untuk membubarkan HMI dilakukan PKI dengan gencar (Kalau tidak mampu membubarkan HMI, lebih baik pakai sarung saja), apalagi menjelang Gestapu atau Gestok (istilah Pemimpin Besar Revolusi Soekarno). Masalah pembubaran HMI bukan hanya menjadi masalah internal, tapi lebih jauh daripada itu, hal tersebut merupakan masalah umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya. Puncak dari usaha PKI untuk merebut kekuasaan dan kedaulatan negara Republik Indonesia adalah dengan melakukan pemberontakan Gerakan 30 Sepetember/PKI tahun 1965. Pemberontakan tersebut dimulai melalui cara penculikan terhadap para perwira tinggi TNI-AD (kecuali Pangkostrad yang merupakan jabatan strategis,), dan menghabisi para perwira itu. Menyikapi hal ini, HMI mengutuk Gestapu dan menyatakan bahwa gerakan tersebut dilakukan oleh PKI (pernyataan bahwa G30S/PKI diotaki oleh PKI pertama kali dilontarkan oleh HMI –sumber Agussalim Sitompul), HMI ikut membantu pemerintah dalam menumpas G30S/PKI dan kerelaan HMI untuk membantu sepenuhnya ABRI. Setelah turunnya Soekarno dan naiknya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia, HMI bersikap mendukung pemerintahan baru yang ingin menjalankan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dan HMI ikut dalam usaha-usaha untuk menumpas sisa-sisa PKI serta organisasi underbouw PKI.
D. HMI dalam Fase Pembangunan dan Modernisasi Bangsa
Berdasarkan tujuan HMI, maka kader HMI harus memiliki kualitas insan cita, yang karenanya akan tercipta kader yang memiliki intelektual tinggi yang dilandasi oleh iman serta diabdikan kepada umat dan bangsa. Pengabdian para kader ini akan dapat dijadikan penopang dalam pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia.
Peran HMI dalam pembangunan bangsa dapat dijabarkan sebagai berikut :
1) Partisipasi dalam pembentukan situasi dan iklim
2) Partisipasi dalam pemberian konsep
3) Partisipasi dalam bentuk pelaksanaan Dalam menjalani peran tersebut, banyak halangan dan rintangan yang justru sebenarnya lebih dominan faktor internal, misalnya pergeseran nilai yang berdampak pada hilangnya ruh perjuangan HMI. Selain itu faktor eksternal memaksa HMI untuk terbawa pusaran kekuasaan, misal masalah asas tunggal yang mengakibatkan perpecahan HMI menjadi dua yaitu HMI yang bermarkas di Diponegoro dan HMI yang menamakan dirinya Majelis Penyelamat Organisasi.
E. HMI dan Fase Pasca Orde Baru
Setelah runtuhnya Orde Baru, dimulailah babak baru perjalanan bangsa yang dikenal dengan sebutan Reformasi. Namun ternyata sampai saat ini reformasi masih berupa angan yang belum dapat terealisir, ironisnya kehilangan arah, karena banyak komponen bangsa yang ingin merasakan sesuatu yang instan, tetapi dengan harapan berumur panjang. Peran HMI dalam reformasi banyak dipertanyakan orang, analisa sementara ini diakibatkan penempatan peran HMI yang “salah” pada fase pembangunan. Bahkan gerakan mahasiswa di luar HMI seringkali menempatkan HMI sebagai common enemy.





BAB 3
PROSPEK HMI KE DEPAN
Telah sering di gambarkan bahwa masa depan hmi cerah dan gemilang. Hal ini beralasan karna berbagai fakto pendukung, seperti misalnya bangunan jaringan hmi, alumni-alumninya yang sudah mapan menempati posisi kenegaraan, jumlah anggota yang banyak dan banyak memiliki peran dan berkiprah aktif sejak awal berdiri. Berdasarkan pengalaman itu disadari bahwa kegemilangan hmi dilakukan denan perjuangan yang keras dan pantang menyerah. Seluruh anggota dan pengurus bersatu padu memajukan hmi, mulai dari tingkat komisariat hinga tingkat pengurus besar termasuk para alumninya. Dengan demikian bila kita menginginkan HMI tetap eksis dan memberikan kontribuksi yang bermakna terhadap kehidupan manusia , umat, bangsa dan islam maka kita harus bekerja keras, tekun, tabah, ulet, terencana, dan teratur. Prospek hmi ke depan tetap cerah secerah terik matahari. Namun demikian smuanya harus ilakukan dengan kerja keras.
Guna mencapai masa depan cerah nan gemilang yang harus dilakukan HMI menurut drs. Solichin di dalam bukunya ” hmi candradimuka mahasiswa,” adalah:
1)      Membina dan menegakkan orisinalitas sejarah dan pemikiran HMI
2)      Membiasakan berfikir secara otonom HMI
3)      Melakukan konsolidasi organisasi secara berkesinambungan
4)      Membentuk kader yang tangguh dan tanggap
5)      Berprestasi dalam bidang studi
6)      Mau melakukan instropeksi
7)      Bekerja sama dengan pihak lain
8)      Tidak cepat puas terhadap capain yang ada
9)      Motivasi harus lurus, artinya masuk HMI adlah untuk pengapdian dan perjuangan yang didedikasikan utuk umat, bangsa, islam, dan mahasiswa.
Selain melakukan hal-hal tersebut, HMI harus perlu memperhatikan faktor-faktor strategis yaitu:
a.        Perkuat Basis (Back to Campus)
Harus disadari oleh segenap kader HMI bahwa basis organisasi HMI adalah dikampus dalam bentuk komisariat sebagai ujung tombak perjuangan HMI. Karena itu perkaderan harus di tingkatkan, baik dari segikualitas maupun kuantitasnya, di kampus-kampus. Sistem perkaderan juga harus ditata ulang dengan memperhatikan lingkungan strategis yang berpengaruh, yaitu:
·         Demokratisasi.
·         Kompetisi
·         Sistem pendidikan
·         Informasi
·         Citra
·         Staus, fungsi, dan peranan organisasi
b.        Alih Paradigma: Ideologis dan Profesional
HMI yang didesain untuk menciptakan insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT, harus menyadari untuk segera merubah paradigmanya, yaitu: sekaligus idealogis dan profofesionalisme. Untuk itu, hmi harus mampu mengaktualisasikan tujuanya sesuai kebutuhan zaman di samping mampu menciptakan instrumen-instrumen yang penunjangnya.  Sehubungan dengan pardigma profesionalisme, ada tiga hal yang perlu dibangun dan dibenahi. Yaitu bagaimana kader hmi mampu menguasai secara mendalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki ketrampilan atau skill yang dibutuhkan oleh zamanya.
Kaitanya dengan alih paradigma ini, maka lembaga pengembangan profesi (LPP) dalam HMI harus diperkuat karena lembaga LPP mampu mewadahi dan mengarahkan berbagai minat mahasiswa menjadi tenaga-tenaga terampil yang siap berkompetisi dalam setiap medan dan tantangan. Selain itu LPP ini juga diharapkan mampu menjadi solusi terhadap upaya perampingan struktur organisasi HMI sehingga dapat bergerak lebih gesit dan responsif.
c.         Konsolidasi
Konsolidasi organisasi adalah masalah besar sepanjang masa yang di maksud sebagai upaya memperkuat organisasi HMI dalam berbagai aspek. Konsolidasi dapat dilakukan dengan cara mempererat tali silaturahmi sesama kader HMI baik yang masih aktif maupun tidak  ataupun kader yang sudah alumni. Untuk menyamakan persepsi  dan kemauan membangun isu besar yang strategis untuk kepentingan HMI dalam upaya reexsistence HMI. Insya Allah dengan konsolidasi ini tidak akan munculnya benih konflik apalagi tumbuh konflik. Gantinya adalah semangat persaudaraan senasib sepenanggungan dan seperjuangan menuju tujuan yang diciptakan.
 Dalam hubungan ini dapat dirumuskan lima atau panca tugas organisasi, yaitu memelihara dan menciptakan sumber potensi, mengolah potensi menjadi kekuatan, memelihara dan mempertinggi kualitas kekuatan, meyediakan kekuatan setiap waktu diperlukan organisasi, hingga merupakan kekuatan yang siap dipakai.
d.        Tingkatkan Kinerja
Kinerja yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik. Agar HMI mampu mencapai hasil yang baik dari masa ke masa sebelumnya maka HMI harus meningkatkan kinerjanya. Tentu saja kinerja yang ditunjukan oleh HMI berfokus pada bidang kemahasiswaan, keislaman, keumatan/ kebangsaan.
Dalam upaya meningkatkan kinerja, HMI harus memiliki ukuran-ukuran, baik dari segi output maupun outcome. Dengan ukuran-ukuran yang jelas dengan ini langkah HMI enjadi lebih tertata dan sistematis.   














BAB 4
PENUTUP
KESIMPULAN
Jadi kesimpulan dari pembahasan diatas bahwa fungsi dan peran HMI di setiap zaman berbeda-beda mengikuti perkembangan zaman.
SARAN
Dikarnakan fungsi dan peranan HMI yang sangat vital di negeri ini. Diharapkan para kader-kader HMI sebagai penurus tongkat estafet kepemimpinan diharapkan untuk terus melakukan terobosan-terobosan baru dalam menjawab tantangan zaman ini. Dan dikarnakan oleh itu kita sebagai kader HMI turut  wajib dan senantiasa berkomitmen untuk terus membangun bumi persada ini.

Revitalisasi Kader Menghadapi Tantangan Globalisasi Dalam Perkembangan Sains Dan Iptek

Berbicara tentang kader tidak terlepas dari pemuda karena Pemuda merupakan pribadi berusia produktif dan memiliki tipikal unik yakni revolusioner, yakin, berpikir modern dan mempunyai moralitas.  Betapa vitalnya partisipasi pemuda dalam sebuah negara karena pemuda sesungguhnya adalah figur yang paling mempunyai kekuatan untuk melakoni kehidupan berbangsa dan bernegara mendatang. Pemuda bisa dianggap sebagai generasi penerus untuk tetap berlangsungnya sebuah negara. Kaum muda adalah sosok yang vital di tiap-tiap perubahan sebab pemuda berjalan menggunakan idealisme dan moral ketika mencermati problem yang ada, untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat dan negara. kader adalah  “sekelompok orang yang terorganisir terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar”. Jadi kita akan berbicara tentang kader yang berkualitas. Timbulnya pertanyaan siapakah kader yang berkualitas itu….? Jawabannya ini tidak mudah kita peroleh jawaban yang tepat. Biasanya orang akan menjawab pertanyaan menurut latar belakangnya, jika seorang kader menitik beratkan pada kemampuan manusia berpikir, hidup bermasyarakat, adanya usaha manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dalam Al-Qur’an manusia sebagai makhluk ciptaan Allah berupa jasmani dan rohani. Jadi seorang kader telah diberikan oleh Allah berupa jasmani dan rohani.
Dalam organisasi HMI sungguh sangat banyak telah terciptanya kader, karena HMI adalah sebuah  organisasi perkaderan. Jelas terlihat, di mana HMI adalah salah satu organisasi yang sudah sangat banyak melahirkan pemimpin, itu dikarenakan di tubuh HMI pola pengkaderan yang dilakukan sudah sangat terstruktur. Seperti Akbar Tanjung, Yusuf Kalla adalah orang- orang  yang sangat besar pengaruhnya dalam negara RI ini. Dan juga seperti Azzumardy Azzara , Nurcholis Majid adalah contoh orang- orang yang telah memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan dan masih banyak lainnya.
Berbicara tentang kader-kader HMI yang telah berhasil, siapa yang tidak bangga. Itu adalah sebagian kecil kader HMI yang telah berjasa pada negara republik indonesia namun kita harus ingat bahwa keder yang berhasil adalah kader yang memiliki kualitas yang baik. Dan kader-kader dari HMI tetap di tuntut harus berjalan sesuai dengan nilai-nilai dasar perjuangaan dan tetap harus mempertahankan nilai indenpendensi lembaga yaitu Himpunan Mahasiswa Islam.
Sekarang ini, timbul permasalahan-permasalahan yang senantiasa membobrok dinding-dinding pertahanan karakter-karakter HMI. Dengan majunya teknologi dan informasi membuat kader terbuai akan “cangihnya” teknologi, sehingga membuat kader menjadi konsumtif bahkan “mati” kreatifitasnya. Maka makalah ini lebih difokuskan pada pembahasan “Revitalisasi Kader  Menghadapi Tantangan Globalisasi Dalam Perkembangan Sains Dan Iptek.
A.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang disebutkan tadi ada beberapa masalah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah kader yang berkualitas ?
2.     Apa saja tantangan global yang melanda kader pada era globalisasi ?

3.    Apakah solusi menjawab tantangan globalisasi saind dan iptek?

Makalah LK II, “Perpecahan HMI Menuju Era Modern

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berdiri 5 Februari 1947 dengan umur yang lebih muda 2 tahun atas kemerdekaan NKRI.Bila bicara HMI tidak akan terlepas dengan Seorang Mahasiswa, Lafran Pane sang pemrakarsa berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bersama rekan-rekan perjuangannya di lingkungan kampus Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta. Mereka mendirikan HMI, antara lain karena ingin belajar tentang keislaman. Keberadaannya terus tumbuh dan berkembang di basis-basis perguruan tinggi Islam, seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga menghasilkan kader-kader yang berkualitas.
Faktor-faktor dominant yang meliputi berdirinya HMI ada 3 hal. Pertama, situasi Negara Republik Indonesia. Dimana dengan kedatangan bangsa Inggris, Portugis, Spanyol dan Belanda ke Indonesia, disamping sebagai penjajah sekaligus membawa misi serta peradaban barat.
Kedua, situasi umat Islam Indonesia. Digambarkan betapa akibat positif dan ysteme dengan penyebaran Islam secara diam-diam dan damai. Namun dirasakan bahwa pengamalan, pemahaman ajaran Islam di Indonesia berlaku tidak sebagaimana mestinya.
            Ketiga, situasi dunia perguruan tinggi dan kemahasiswaan. Akibat logis dari penjajahan Belanda, maka dunia pendidikan umumnya serta dunia perguruan tinggi dipengaruhi ystem pendidikan Barat, yang pasti mengarah pada sekularisme, mendangkalkan dan penghayatan Agama dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dengan adanya pengaruh sekularisme ditengah-tengah kehidupan Perguruan tinggi dan Kemahasiswaan, dan keberadaan Persyerikatam Mahasiswa Yogykarta (PMY) dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) yang mengambil basis di Perguruan Tinggi, sebagai organisasi yang berhaluan komunis, maka situasi Perguruan Tinggi dan dunia Kemahasiswaan dilanda Krisis Keseimbangan dihampir seluruh kota perguruan tinggi di Indonesia. Krisis Keseimbangan yang dimaksud, tidak adanya perpaduan antara pemenuhan tugas hidup di dunia dan akhirat, akal dan kalbu, jasmani dan rohani.
Dengan memasuki Era Modern HMI hingga saat ini masih eksis dan menghasilkan kader-kader berkualitas yang menempatkan kader-kadernya di pemerintahan perkotaan maupun daerah-daerah.Ini membuktikan bahwa Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi Organisasi Mahasiswa yang besar, berpengaruh dan disegani kawan dan lawan.
Menilik sejarah Organisasi Kemahasiswaan khususnya HMI yang dari awal berdirinya hingga saat ini yang masih hidup. Akan tetapi Organisasi ini bukan tidak mungkin berjalan dari tahun ke tahun dengan tidak adanya pergejolakan-pergejolakan pada tiap-tiap Era.banyak sekali HMI berperan dalam suatu pergerakan hingga saat ini. Pada tahun 1965 Organisasi HMI ingin dibubarkan oleh sejumlah oknum-oknum seperti PKI,CGMI. Namun, sampai saat ini HMI tetaplah berdiri dan semakin besar,ini membuktikan bahwa HMI tidak dapat untuk tidak di pandang oleh NKRI karena HMI terus berperan melalui kader-kadernya.
Pada pemerintahan soeharto tahun 1985 era orde baru sangat mengutamakan politik keseragaman dan pemusatan kekuasaan. Oleh karena itu, semua kekuataan social dan politik dipaksa untuk mengubah dasarnya dengan Pancasila. Jika suata ormas menolak dapat berakibat dibubarkan oleh pemerintahan soeharto. Pada tahun tersebut pemerintah mengeluarkan kebijakan UU ormas yang mewajibkan semua ormas memakai asas tunggal pancasila. HMI-pun akhirnya terkena dampat oleh kebijakan tersebut. Pada kongres XVI di kota padang tahun 1986 menjadi saksi pengaruh Negara yang berlebihan untuk memaksakan asas tunggal.

 HMI menolak keras karena menurut mereka islam adalah satu-satunya ideology yang mereka anut dan menurut pemerintah. Sejalan dengan perkembangan waktu, HMI terbelah menjadi dua pasca diselenggarakannya kongres ke-15 HMI di medan pada tahun 1983, HMI pancasila menjadi HMI yang resmi diakui Negara (tahun 1999 HMI DIPO mengubah asas pancasila menjadi islam) dan HMI Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) yang tetap kukuh berasas islam sampai zaman modern saat ini. Karena alasan untuk menyelamatkan HMI dari ancaman pembubaran oleh rezim Orde Baru,maka melalui Kongres padang disepakatilah penerimaan asas tunggal pancasila. Setelah penerimaan azaz tunggal itu, HMI yang bermarkas di jalan Diponegoro sebagai satu-satunya HMI yang diakui oleh Negara. Namun pada kongres Jambi 1999, HMI (DIPO) kembali ke kepada asas islam

Dalam perkembangannya perjalanan HMI hingga terbentuknya HMI-MPO telah mengalami proses pematangan konsepsi gerakan. Ditingkat internal, tujuan HMI juga telah mengalami perubahan sampai enak kali. Hal ini menunjukan bahwa HMI MPO senantiasa menyikapi secara kritis dinamika melingkupinya dengan tetap berupaya menegaskan prinsip-prinsip vital gerakannya. Format gerakan HMI mengalami perubahan besar sejak munculnya HMI MPO yang menjadisimbol perlawanan kelompok-kelompok kritis dalam HMI. Lahirnya HMI MPO dari tubuh HMI telah merubah pakem gerakan HMI yang semula selalu lebih banyak akomodatif terhadap kekuasaan (state) menjadi gerakan kritis yang menjadi oposisi negara.