Autokritik HMI Metro, Ketidak berdayaan Sang Kakek Ijo Itam

Tepat di di akhir bulan ini, HMI Cabang Metro akan menyelenggarakan Konferensi ke 39. Artinya roda organisasi akan diperbaharui dengan wajah-wajah baru dan semangat perjuangan baru. Sebagai anggota dan sekaligus pengurus tentu menyambut bahagia dengan datangnya agenda me-refresh kepengurusan.
Jika melihat satu tahun ini, tidak banyak yang dapat diperbuat namun banyak hal baru diluar kegiatan formal yang dilakukan secara progresif. Misal turut serta kegiatan kollektif bersama warga dan komunitas, menerbitkan buku, dan sebagainya.
Gerak Progresif HMI Metro beberapa kepengurusan saat ini tentu harus meninggalkan ruang kritik guna perbaikan bersama. Dengan adanya kritik tersebutlah HMI akan senantiasa memudakan dirinya.
Kritik untuk Masa Depan; Keterbukaan dan Sadar Diri
Sepanjang HMI berjalan penulis melihat terdapat hal yang perlu diperbaiki. Pertama terkaitKeterbukaan, dan ini menjadi vital dalam membangun peradaban, lebih kecil lagi yaitu organisasi. Keterbukaan terkait apa saja yang ada, baik informasi, kultur, budaya dan sebagianya. Dari tingkatan terkecil yaitu sesama anggota hingga masyarakat.
Misal saja terbuka terhadap gerakan kreatif yang muncul saat ini. HMI harus menerima bahwa saat ini gerakannya hampir tenggelam bersama zaman. Kehadirannya di tengah masyarakat nampak surut dan tak lagi ditunggu. Ketidak berdayaan ini membuat sebaiknya HMI harus menerima bahwa dunia semakin berkembang dan muncul gerakan-gerakan baru yang aktif memperjuangkan masyarakat dengan melibatkan warga, missal Wathcdoc,Komunitas-komunitas kreatif dan sebagainya.
Sebagai organisasi besar dan tua sebenarnya kita harus mengakui telah kalah membaca keadaan. Terobosan-terobosan HMI tumpul untuk warga, justru terkadang tajam untuk penguasa. Dengan menyadari seperti itu, kedepan diperlukan pembacaan ulang ditubuh HMI itu sendiri. Rekontruksi sangat diperlukan demi menjaga eksistensi HMI di tubuh masyarakat.
Memang tidak heran kenapa keterbukaan menjadi krusial dibahas dalam tulisan ini. Pertama perlu dipahami bahwa dengan kultur HMI yang kental dengan nuansa politik ketimbang akademis, mengakibatkan organ didalamnya selalu berfikir layaknya politisi; Berhati-hati dan terlalu menyimpan banyak rahasia. Kental berfikir politis inilah yang membangun tembok didalam ruang keterbukaan.
Akhirnya zona terdepan disetiap perlawan hilang meninggalkan si kakek tua. Bahkan terkadang tutup telinga dan tutup mata.
Kedua, Sadar Diri, bagian ini sebenarnya ini ditujukan kepada alumni HMI. Saya memahami bahwa tak mungkin HMI dapat berdiri mandiri tanpa adanya kehadiran Alumni. Namun, dalam konteks pengembangan dan penentuan sikap berorganisasi HMI sangat dibutuhkan tanpa adanya campur tangan alumni HMI. Dan lagi-lagi persoalannya paling besar adalah politik.
Politik itu adalah innate, sejak terlahir bakat pengetahuan politik itu sendiri telah terbangun. Maka tak perlu lagi alumni HMI mengajak anggota HMI berlajar tentang politik. Memang Penting untuk anggota HMI mengasah jiwa politik, namun ketika dominansi akademis kader sebagai alat perjuangan runtuh maka sama saja mengamini HMI untuk berlari ditempat.
Terus bagaimana peran alumni? Jika kemudian alumni adalah anggota HMI yang telah melewati proses pengkaderan lebih dahulu. Maka mereka yang mampu memberikan saran dari kekurangan-kekurangan di setiap periode. Tentu terkait bagaimana anggota HMI dapat membangun ilmu pengetahuan sebagai alat perjuangan.
Penulis menyakini benar bahwa peradaban yang dibangun dengan ilmu pengetahuan paling tidak akan hidup lebih lama dari pada butir-butir pondasi nya berawal dari politik. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi pengetahuan baru yang selalu diskursuskan bagi keluarga besar HMI, dan menjadi suplemen untuk yang diberikan amanat sebagai nahkoda kepemimpinan HMI Metro selanjutnya.
Penulis senantiasa percaya bahwa esok HMI akan menemukan jalan pulang sebagai rumah perjuangan rakyat. Sebagaimana tagline HMI tahun lalu, “HMI Untuk Rakyat Karya Nyata Untuk Indonesia”.
tulisan ini diterbitkan oleh pojoksamber.com

Antara Indonesia, Malaysia dan Singapura


Antara Indonesia, Malaysia dan Singapura di publish oleh Pojoksamber.com
Perjalan sekitar bersama teman-teman komunitas cangkir menjelejah Negara lainya selama 5 hari di Malasysia, Singapura dan kembali lagi Indonesia, dengan bermodal beras satu kilo kering tempe sebungkus dan pakaian yang hanya cukup satu tas. Intinya, tak seperti orang lain yang berpegian ke luar negeri. Uang yang tak cukup ditampung di dompet, bagasi pakaian yang besar dan bermukim cukup lama di wisata setempat. Kami menyebutnya mbolang ataupun isitilah lainya backpacker, terserah apapun namanya yang past kami dapat berangkat dan kembali lagi beraktifitas seperti biasanya dengan membawa beragam pengalaman berharga untuk dibagikan. Terutama perbedaan dari tiga Negara ini; Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Saat pertama kali yang dipikirkan setiap orang jika berpergian ke Malaysia pasti hal yang pertama yang akan di catat didalam buku agenda perjalan mereka yaitu Menara Kembar Petronas, atau melakukan perjalanan dengan transportasi super cepat monorail. Sedangkan jika kita ke singapura yang akan dilirik pertama kali di daerah wisata foto,  Merlion. Dengan kata lain, tak akan terasa berpegian ke Malaysia atau singapura jika tak sempat menikmati tempat tempat tersebut.
Walaupun demikian jauh dan dengan waktu singkat, perjalan panjang yang melelahkan itu mencatatkan nama kami untuk sempat menikmati indahnya negeri seberang. Dan 10 orang yang berbeda latar belakang dengan bekal ala kadarnya akhirnya bersama sama singgah di sana.
Gedung Pencakar Langit dan Tata Kota
Saat pertama kali pesawat mendaratkan di Bandara Internasional Kuala Lumpur, ribuan pohon sawit yang menyapa. Pertanyaan pertama yang terbesit justru, ini Malaysia? Namun setelah meninggalkan bandara dan menduduki bus kota baru lah pertanyaan awal terbantahkan dengan melihat gedung-gedung yang tertata dengan baik dan tentu iri melihat kebersihan kota yang jomblang jika dibandingkan dengan negara sendiri.
Penulis mencatat beberapa icon negara Malaysia dengan Twin Tower nya dan  Singapura dengan wisata foto di Merlion, dan tentu bangunan lainya yang tak kalah indah. Negara dengan populasi sekitar 32 jiwa jika digabungkan (Malaysia dan singapura)  berbanding 1:8, 237 jutaan dengan Indonesia dan dengan wilayah yang cukup kecil.
Jika mengkomparasi bangunan dan tata kota tiap-tiap negara tentu Indonesia jauh tertinggal. Bangunan dan tata kota yang sengaja dibentuk sedmikian rupa sehingga tidak meninggalkan ruang public yg tidak termanfaatkan. Destinasi wisata foto dapat menjadi pilihan dengan ruang sempit yang ada, misal lihat singapura sekitar daerah merlion. Saat penulis turun dari kereta lorong-lorong keluar di hiasi dengan gambar dan kalimat kalimat menarik yang membuat pengunjung tak mungkin melewatkan moment tersebut. Tugu tugu, bangku pengunjung  dan pepohonan kecil ditengah taman membuat ruang publik ditengah himpitan gedung pencakar langit. Burung-burung dara yang dipelihara negara terbang bebas mendarat di taman memberikan kesan natural di tengah tingginya semen dan kaca. Takjub dan terheran adalah pemikiran awal yang muncul ketika melihatnya.
Bunga-bunga yang tumbuh di trotoar jalan, dan menjadi penghias lampu-lampu pengguna pejalan kaki seakan melihat kota yang luas dengan keasrian terjaga. Ruang publik terasa luas dan nyamana seakan memanggil pengunjung menghampiri dan beristirhata sejenak untuk sekedar menghilangkan rasa jenuh dan lelah.
Destinasi Kebudayaan Indonesia
Tak bisa dipungkiri jika Indonesia tertinggal jauh dengan pembangunan fisik diantara Malaysia dan singapura. Walau lebih tua usia nya jika dihitung dari kemerdekaannya, tetap saja tak mampu mengungguli negara yang dikisar lebih muda. Tata kota yang serampangan tanpa ada nya perencaanaan berkala panjang membuat ruang publik di Indonesia sulit dikelola dengan baik. Transportasi yang semrawut meerparah keaadaan yang ada. Kesadaran akan kebersihan menjaga ruang publik berefek pula dengan kenyamanan mata memandang ruang publik sebagai ruangan relaksasi melepas jenuhnya kesibukan kerja. Adapun harus dicapai dengan waktu yang tidak singkat.
Namun Indonesia sebenarnya memiliki destinasi secara kuantitas lebih banyak dibanding 2 negara tersebut. Jika ingin mengguli dengan negara lain justru penulis kira bukan bangunan yang menjadi prioritas utama sebagai destinasi wisata. Justru akan telat dan tertinggal jauh jika harus dimulai, namun bukan berarti tidak untuk di lirik.Sektor lain misal Kebudayaan yang lahir dari sabang sampai merauke dapat menjadi andalan utama. Dengan memperbaiki dan mengkampanyekan kebudayaan lokal akan menjadi pionir utama. Belum lagi jika melirik destinasi pantai yang menghampar.
Penulis  mengambil satu contoh kebudayaan Indonesia yang tak dimiliki negara lain, yaitu gotong royong. Penulis mengamati bahwa gotong royong juga dapat menjadi pondasi awal merekontruksi segala sektor. Hasil kebudayaan yang sudah mendarah daging dan sarat akan historis yang memunculkannya negara yang disebut Indonesia.
Akhirnya dengan menyematkan teori gravitasi dalam tulisan ini, kurang lebih seperti “setinggi tinggi benda yang dilemparkan ke atas maka pasti akan kembali pada titik awal” penulis mengharapkan sejauh perjalanan kaki mendaki ilmu maka sudah selayaknya untuk kembali dan memperbaiki kampung halamannya.

Menarik Budaya Udunan Di Kota Metro

artikel tersebut di publish di link di pojoksamber.com




Siapa sangka Badan Perencanaan dan Pembanguan Daerah (BAPPEDA) Kota Metro menggandeng komunitas mengadakan lomba menulis “Metro Kota Hijau Layak Huni”. Mungkinkah perspektif pemerintah (BAPPEDA) agar terlihat dekat dengan warga atau perlawanan ego kekuasaan untuk mereparasi kota?
Meloncat sejenak ke Kota Bandung teringat kata Ridwan Kamil “kini bukan jamanya mengubah jaman sendiri. Kita perlu bersama sama, kita perlu berkolaborasi. Kolaborasi itu ibarat kunci pintu rumah yang bernama masyarakat madani”. Dalam hitungan tahunKang Emil, sapaan Ridwan Kamil mengubah Bandung yang sempat dilabeli Kota Sampah menjadi kota yang layak huni. Tentu dengan kolaborasi atau gotong royong menjadi kunci pintu masuk.
Sinergitas pemerintah dengan komunitas, media dan swasta adalah awal keberhasilan membangun Kota Bandung. Jika dibandingkan dengan Bandung maupun Surabaya, Kota Metro memang terhitung usia muda baru beranjak 16 tahun. Sangat kontras jika dibandingkan secara usia.
Mimpi akan kota hijau penulis kira tak perlu menunggu dalam usia yang sama dengan bandung untuk menumbuhkan kota hijau. Penulis kira tak perlu menunggu justru dengan mengambil contoh daerah lain yang telah menerjemahkan kota hijau layak huni, misal Bandung dapat menjadi acuan awal.
Metro sebenarnya memiliki potensi dasar untuk bermertamorfis menjadi kota cerdas, hijau dan layak huni. Misal saja dengan index pembangunan manusia (IPM) tertinggi di Lampung dengan 77,30 dan belasan kampus yang ada menjadi modal iklim suprastruktur terbaik. Dengan jumlah populasi 153 517 (BPS, 2013) dan Luas wilayah hanya sekitar 45 KM, membuat kota ini seharusnya mudah untuk di bentuk.
Mimpi Bersama Membangun Metro green-city?
Menurut Gray (1996) bentuk bentuk ruang terbuka hijau diklasifikasi sebagai taman kota (city park), lapangan terbuka/bermain (public square), halaman gedung atau pekarangan (ground of city building), pemakaman dan monumen, jalur hijau dan media jalan. Bahkan Lovelay (1996) menambahkan sektor pertanian termasuk kedalam ruang terbuka hijau.
Di Metro, dengan bermunculan taman baru seperti Taman Trimurjo, Taman Ki Hajar. Dewantara dan Taman Yosomulyo, ikhtiar pemerintah menumbuhkan kota hijau mulai nampak. Namun apakah cukup membangun infrastruktur? Seperti kata Stephan Becsei (2013), “Green” does not just mean planting trees and shrubs but the requirement of overall concepts that support the improvement of city centers. Tidak hanya sekedar memperhijau lebih dari itu aspek diluar juga mempengaruhi termasuk iklim orang.
Setahun ini penulis telah mengamati banyak momentum yang dilakukan warga membangun kreatifitas dan menampilkan karya di ruang hijau. Misal event #SayangiMetro, Carrity PhotographyTribute to Lukman dan terakhir ini penulis mencatat #MetroRevival yang banyak menggunakan ruang terbuka hijau. Dan tentu masih terdapat kegiatan yang sifat nya non-formil yang belum sempat penulis catat didalam artikel ini. Tetapin tulisan ini akan fokus terhadap kemunculan komunitas-komunitas yang ada di Metro dengan memanfaatkan ruang publik.
Kehadiran komunitas menyelenggarakan kegiatan di ruang terbuka saat di Rusunawa, Taman Ki Hajar Dewantara atau ruang terbuka lainnya secara tidak sadar mengedukasi warga untuk beralih dari private sector sebagai tempat berkumpulKesadaran komunitas dengan mengadakan event yang berkelanjutan di ruang publik sangat lah membantu menstimulan warga untuk terlibat didalamnya.
Dengan begitu Pemerintah tidak repot lagi menumbuhkan iklim-iklim orang. Dan akhirnya mengandeng komunitas untuk meramaikan ruang hijau menjadi urgen dilaksanakan. Misal, dengan lomba atau pameran yang dilaksanakan diruang terbuka hijau dapat sekaligus mengedukasi warga untuk tetap menjaga lingkungan. Secara otomatis demi kenyaman menggunakan ruang hijau, warga akan sadar tentang menjaga lingkungan.
Kemudian lingkungan akademisi (kampus) yang memiliki peran intelektual melalui penelitian-penelitian ilmiah seharusnya mulai disadarkan untuk berkolaborasi. Pemerintah dengan menggandeng perguruan tinggi yang ada dapat melahirkan penelitian-penelian baru tentang kota.
Tentu kolaborasi yang dibentuk memang harus memegang teguh kepercayaan terhadap SDM lokal dan mulai mengendorkan ketergantungan dari luar. Ketergantungan yang besar terhadap dunia luar juga dapat memperparah keadaan.
Setelah memberdayakan iklim-iklim orang, kolaborasi dengan media harus dijalankan. Dengan adanya media sosial ataupun online saat ini dapat dimanfaatkan sebagai media promosi kota yang relative murah dan kekinian. Menggunakan media sosial untuk berkampanye contohnya #MondayBike, #SaveTaman. Baru kemudian menggandeng pihak swasta turut gotong-royong memberikan CSR-nya untuk fasilitas-fasilitas di ruang terbuka hijau. Dan bukan lagi baliho baliho yang merusak ruang hijau.
Akhirnya, Dengan atau tanpa pemerintah kemandirian yang dibangun komunitas-komunitas mengedukasi warga tentang fungsi ruang public, penulis kira akan terus berjalan. Namun seperti bagian organ tubuh, satu tidak berfungsi maka organ lainya turut berpengaruh.
Kemudian keberlanjutan pilot project “Metro Kota Hijau Layak Huni” tergantung kepada sikap pemerintah, Pilihan gaya lama birokrat yang bekerja secara sendiri, ataupun yang penulis sebutkan diawal hanya ingin dilihat dekat dengan warga namun sebenarnya tetap melanjutkan tradisi birokrat, maupun alternatif lain yang keluar dari mainstream demi perbaikan sistem kepemerintahan dengan berkolaborasi bersama-sama warga, merupakan pilihan yang harus dipilih kedepan.
Penulis menutup artikel ini dengan meminjam kalimat Moh. Hatta, bahwa karna gotong royong adalah landasan historis terbentuknya negeri ini. Maka dengan gotong royong pula Metro dapat menjadi kota hijau yang layak huni.


Peluang Calon Perempuan


Oleh : Diyan Ahmad Saputra 

( Pegiat Komunitas CangKir, Bergiat di Sai Wawai Institute)
Minus calon perempuan dalam Pilkada Lampung 9 Desember mendatang. Dari 29 Pasangan, hanya terdapat tiga perempuan yang maju dalam Pilkada. Mereka adalah Chusnunia Chalim di Lampung Timur, Megasari di Metro dan Erlina di Pesisir Barat. Kebetulan ketiganya berlatar belakang politisi dan aktifis organisasi sosial.


Saya memahami bahwa rendahnya partisipasi politik perempuan juga disebabkan oleh kurangnya pendidikan politik dan pendidikan pemilih (voter education and political education), khususnya di negara-negara berkembang Hal ini mempengaruhi aksesibilitas, voice dan partisipasi mereka dalam sistem politik, baik pemilu maupun Pilkada.

Terlebih hal ini juga dipengaruhi oleh kenyataan bahwa banyak perempuan di negara-negara berkembang dikungkung oleh budaya patriarki yang kurang mendukung partisipasi perempuan dalam sistem politik dan kebijakan publik. Meski demikian , belakangan kita juga dapat melihat pemimpin perempuan yang sukses memimpin daerahnya. Pada gilirannya orang tidak lagi mempersoalkan jenis kelamin, agama, suku dll. Publik semakin cerdas dalam menilai calon pemimpin beradasarkan kapasitas, track record, dan integritas.
Di Indonesia kini fenomena kepala daerah perempuan juga sudah muncul. Sebut saja Tri Rismaharini di Surabaya, Rita Widyasari di Kutai Kartanegara, Illiza Saaduddin Djamal di Banda Aceh, Anna Sophanah di Indramayu, Widya Kandi Susanti di Kendal, Siti Masitha Soeparno di Tegal, Ni Putu Eka Wiryastuti di Tabanan, Idza Priyanti di Brebes. Tentu masih banyak lagi yang mungkin penulis tidak ketahui.
Peluang Perempuan
Melihat jumlah pemilih perempuan yang tak kalah dengan laki-laki, pada pemilu mendatang mereka merupakan sasaran potensial untuk dibidik. Di Lampung Timur misalnya dari 1.105.990 jiwa penduduk 534.658 jiwanya adalah perempuan. Di Metro dari 151.669 jiwa penduduk , 75.530 jiwannya adalah perempuan. Sementara Pesisir Barat dengan penduduk 163.321 jiwa sebagiannya juga mungkin adalah perempuan.

Munculnya calon perempuan di Pilkada serentak di Lampung tentu melahirkan pertanyaan penting sejauh mana peran politik mereka dalam kontestasi politik, apakah sebagai pelengkap saja atau justru sebagai faktor yang menentukan. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya , calon perempuan sesungguhnya memiliki peluang untuk menjadi faktor yang menentukan dalam Pilkada.
Pertanyanya adalah sejauh mana kemampuan para calon perempuan untuk mengkomunikasikan program-program mereka dan melakukan advokasi terhadap masalah-masalah yang kerap menimpa dan dekat dengan kalangan perempuan. Ujian untuk menguji komitmen, integritas apakah calon perempuan berani untuk lebih banyak turun tangan alias terlibat langsung di tengah-tengah masyarakat, khususnya perempuan. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana calon perempuan memiliki kepekaan dalam menangkap kebutuhan konstituen dan mengartikulasikannya ke dalam kampanye. Kepekaan terhadap isu-isu lokal yang berkaitan dengan kepentingan perempuan. Dibutuhkan suatu strategi khusus untuk mengambil hati pemilih perempuan. Perlu diketahui bahwa pemilih perempuan dalam menentukan pilihan politiknya, seringkali berdasarkan pada faktor emosional, sosiologis, rasional dan politis.

Dengan potensi pemilih perempuan yang besar wajar bila para kandidat berusaha untuk menarik simpati perempuan. Hal yang tak kalah pentingnya adalah beberapa kelompok maupun organisasi perempuan lebih solid semisal kelompok-kelompok pengajian sehingga mudah untuk ajang sosialisasi dan diorganisir. Dengan satu kali kunjungan, target akan meluas karena banyaknya personal yang datang. Di Lampung sendiri sudah ada kepala daerah yang telah membuktikannya.

Berbagai riset mengatakan bahwa mendekati pemilih perempuan, memang tidak semudah yang dibayangkan. Persamaan jenis kelamin tidak serta merta secara otomatis menggerakan pemilih perempuan untuk memilih calon perempuan. Meski demikian seiring dengan perkembangan teknologi dan akses informasi kemajuan teknologi dan akses informasi saat ini, membuat pemilih perempuan lebih independen dalam menentukan pilihan politik. Tak sedikit perempuan yang keluar dari kungkungan struktural ataupun kultural yang mengekangnya. Dengan demikian, tidak sedikit pemilih perempuan yang berani menunjukkan perbedaan pilihan politik dengan suami dan orang tuanya.

Calon perempuan yang bertarung di Pilkada 9 Desember mendatang sesungguhnya memiliki kans yang sama besarnya dengan kandidat lainnya sepanjang mereka mampu menunjukan perbedaan kualiatas yang mereka miliki dan kemampuan mengkomunikasikannya kepada pemilih. Akhirnya , penulis menyampaikan hormat kepada perempuan-perempuan pemberani yang bertarung dalam Pilkada. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”


*Diterbitkan oleh Koran Fajar Sumatera edisi 06/08/2015


Komunitas Cangkir dan Ikhtiar Kota Kreatif

Komunitas Cangkir dan Ikhtiar Kota Kreatif
Tulisan di upload di Kompasiana.com dapat dilihat di sini Komunitas Cangkir dan Ikhtiar Kota Kreatif

Membangun kota tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga telah menjadi tanggung jawab bersama. Kota tidak boleh memiliki jarak dengan kemanusiaan, membangun kota jangan sampai juga membangun kesenjangan, melahirkan konflik dan menjadikan warga kota justru terasing dengan lingkungannya sendiri.

Warga kota harus secara kreatif mendorong dan melahirkan kota kreatif. Kota yang dibangun oleh pemerintah dan seluruh warga, bahu membahu membangun peradaban kota bersama. Kota kreatif yang dibangun bersama adalah prototipe kota baru yang lahir atas gotong royong dan kebersamaan.

Bung Hatta dalam Ekonomi Kerakyatan karya Revrisond Baswir, menyatakan bahwa kharakter bangsa ini yang tak boleh terlupakan salah satunya semangat gotong royong. Ini merupakan salah satu bagian bahwa kota kreatif harus memilki bagian jiwa ke-Indonesia-an, yaitu gotong royong.

Meminjam istilah Ridwan Kamil, “your city is your responsbility” kota yang dibangun atas tanggung jawab bersama menjadi kunci awal untuk membangun creative city. Sehingga gotong royong bukan hanya sekedar panggilan keterpaksaan sosial. Melainkan keikhlasan dan kesadaran diri bergotong royong yang menjadi ruh-nya.
Dengan kolaborasi tersebut kata kota itu akan mendekati kenyataan. Namun melihat pemerintah dengan sistem saat ini yang cukup nyaman dengan sistem lama. Maka merekalah yang harus merespons terlebih dahulu dan memudakan kembali dirinya. Me-muda-kan bukan berarti ditinjau dari segmen usia. Melainkan tertanam jiwa muda yang selalu gelisah terhadap kenyamanan. Selalu mengupgrade dan berpandangan jauh kedepan merupakan bagian dari jiwa muda.

Berbicara karya dan bukan kaya adalah bahan bakar atas ide dan gagasan. Menghilangkan kata “untuk saya” diubah menjadi “untuk mereka” ialah bentuk keharusan. Tanpa adanya itu kemustahilan kolaborasi dapat tercapai. Dan kota kreatif jauh dari pandang.

Komunitas Kreatif
Di Kota Metro, beberapa komunitas menanamkan sikap dengan atau tanpa pemerintah, warga atau komunitas harus terus bergerak untuk membangun kotanya. Karena mereka berhak dan bisa mengambil peran untuk mengatur dan mengubah kota menjadi kota kreatif melalui komunitas-komunitas kreatif. Komunitas-komunitas itulah yang kela menjadi motor penggerak rekayasa kota. 

Komunitas Cangkir kamisan misalnya, meski lahir ditengah kota kecil, Kota Metro yang jauh dari pusat peradaban besar, namun tak menyurutkan mimpinya terhadap perubahan kota. Kota yang seharusnya dimiliki setiap warga didalamnya. Bukan hanya pemerintah, tapi setiap warga berhak memiliki dan mengatur kotanya. 

Gerakan yang dibangun komunitas ini bukanlah bentuk gerakan baru tapi paling tidak reborn nya generasi baru untuk menafsirkan kota itu sendiri. Gerakan yang termanifestasikan sebagai gerakan warga yang memgambarkan akan kemauan hidup sebuah kota. 

Diawali dengan diskusi setiap kamis malam di emperan rumah, anak-anak muda berdialektika tentang kota. Kota yang ditempati maupun disinggahi. Tidak melihat dari baju agama, usia, tambah lagi dengan dari mana ia berasal. Melainkan mereka yang melihat kota ini perlu obat untuk sakit nya sang kota. Rasa tanggung jawab akan tugas warga kota itu lah yang merumuskan akan kemana arah jalan kota kedepan.

Diskusi yang kini telah berjalan hingga ke seri 40-an lebih terus melahirkan ide dan gagasan kreatif untuk kota. Misal, didahului dengan merangsang keterlibatan warga dengan portal jurnalisme warga, www.pojoksamber.com dan mendorong kembali budaya literasi. 

Dengan begitu, komunitas ini sudah meletakkan pondasi pembangunan kota atas dasar pengetahuan. Serta memperluas jangkauan hasil buah pikir warga melalui portal tersebut. Agar kebaikan yang tumbuh dapat disebarluarskan dan ditularkan.

Seperti air mengalir, ada yang terhampar dicela-cela batu. Singgah diantara-antara rerumputan, Ataumenggenang didalam kubang. Tapi komunitas tidak memilih bagian tersebut.Melainkan sebaliknya, mengalir terus tanpa berfikir untuk berhenti. Melawan kenyamanan dan menchallenge kebutuhan kota. 

Gelisah akan kenyamanan ini membuahkan hasil. Rumah Bersama didirikan dari uluran tangan orang-orang baik. Tanpa proposal, tanpa meminta-minta, tanpa banyak bicaraataupun semacamnya, iuran bersama-bersama akan cita tentang rumah bersama yang menjadi basis gerakan dibangun diatas tanah warga untuk menjadi tempat lahirnya ide-ide baru. 

Dirumah ini pula terpusat jaringan wifi gratis untuk warga. Sebagai bentuk edukasi akan pentingnya berjalan diatas modernisasi teknologi. Munculnya Sai Wawai Publishing (SWP) dan Sai Wawai Institute (SWI) yang bergerak di penerbitan buku dan lembaga kajian dan riset warga, membangun Bank Sampah sebagai alternatif pengelolaan sampah kota yang setiap hari semakin bertambah, memperkuat sinyal cita-cita bersama mewujudkan kota kreatif.

Hasil-hasil dari produksi komunitas itu dipakai sebagai bekal gerakan selanjutnya. Misal, hasil dari penerbitan buku, kaos komunitas, hasil kreatif pengelolaan sampah, ataupun “gerakan sedekah tong sampah” yaitu dengan menjual tong sampah dengan harga dibawah pasar dan di tanam oleh relawan-relawan disudut-sudut kota. 

Sehingga komunitas ini menjawab pula bagaimana kemandirian sebuah warga (komunitas) dibentuk, agar mengurangitradisi lama yaitu ketergantungan terhadap negara (pemerintah), danmengedukasi kemandirian wargaagar tak meluluharus tunduk dengan kekuasaan.

Oleh karna itu, wacana social enterpreneurship mulai dijalankan sebagai terobosan lifestyle baru untuk kota. Bersosial sekaligus berwirausaha juga dapat mengurangi mindset buruk yang melekat di dunia pendidikan saat ini. Ditambah lagi,bisa memperpanjang nafas komunitas dan menegaskan akan kemandirian warga.Seperti yang terkandung dalam lirik lagu #SayangiMetro,“Sayangi lah kota ini jaga tetap alami, Sayangi lah kota ini,warga hidup mandiri”. Lagu yang merupakan bagian dari mengkampanyakan Gerakan #SayangiMetro dengan Gerakan Pungut Sampah(GPS) setiap minggu Car Free Day (CFD).

Secara sadar atau tidak sadar, Komunitas ini telah menjawab tiga segmen dari empat segmen yang di lontarkan oleh Ridwan Kamil, “sehebat-hebatnya pemerintah, ia hanya membawa ¼ perubahan. ¼ lagi ada di bisnis. ¼ lagi ada di pergerakan masyarakat seperti ormas dan komunitas. ¼ lagi ada di media.”

Kedepanya cita-cita komunitas ini dengan pembuatan Portal Jurnalisme Warga, Rumah Bersama, wi fi gratis dan Bank Sampah di setiap kelurahan, akan menginspirasi lahir dan tumbuhnya komunitas-komunitas baru yang melibatkan lebih banyak warga untuk mempercepat terwujudnya kota kreatif.

Ayah dan Kenangan Tentang Kopi

Ayah dan Kenangan Tentang Kopi
tulisan ini diposkan oleh penulis di laman Web Kompasiana.com. 

Kopi, siapa yang tak kenal dengan minuman hitam satu ini. Dimana pun kita berada, saat berpergian maupun hanya sekedar nongkrong, kopi menjadi kekasih yang setia menunggu kita menghabiskan waktu. Pagi, siang ataupun malam hari tidak menjadi masalah untuk sang kopi. Tua, muda tak menjadi ukuran penikmat sang kopi.

Dunia yang semakin tua semakin modern, kopi pun tak lekang ditinggalkan pecintanya. Bahkan lahirnya soft drink pun tak menjadikan sang kopi hilang. Karena apa ? kopi sudah menempatkan space tersendiri di memori otak manusia.

Penulis ingin berbagi cerita bagaimana sang kopi tak pernah pergi di memori nya. Sejak kecil aku sudah menggemari minuman berasa aneh ini. Ayahku merupakan pecinta kopi berat. Setiap pagi sebelum berangkat ngajar di Sekolah Dasar selalu kopi dengan ditambah sebatang rokok menjadi sarapannya. Karena penasaran aku selalu mencuri waktu untuk dapat menikmati walau takut dimarahin. Sebenernya ayahku bukan melarang aku meminumnya. Katanya tidak baik untuk kesehatan anak-anak. Namun aku tetap meminum minuman yang berasa aneh ini.

Biasanya ayahku selalu menyisakkan kopi pagi nya untuk diminum disiang hari. Tapi terkadang akulah yang menghabiskan secangkir kopi hitam ayahku. Hingga kini, tradisi ayahku meminum kopi tersebut dilanjutkan oleh anaknya. Penulis selalu meninggalkan sedikit kopi didalam gelas sebelum berangkat kekampus. Sepulangnya pertama yang aku cari adalah dimana secangkir kopi tadi pagi ? Akan kuhabiskan sembari menunggu masak air untuk menyedu kopi part selanjutnya.

Saat ingin menulis pengalaman dengan secangkir kopi ini. Penulis teringat sempat memiliki pengalaman tentang sang kopi. Karena kebiasaan jika melihat ayahku duduk dengan secangkir kopi, tangan gatal ingin memegang gelas dan menikmati sang kopi. Beberapa sendok kopi sudah melewati kerongkongan dan penulis sadar sebelumnya telah minum obat.

Sepercik ingatan lama memutarkan memori otak. Teringat kata ibuku kalau tidak boleh mengkombinasi kopi dan obat dengan jarak waktu yang berdekatan. Panik melanda, karna ingat kata-kata tersebut.

Pusing dan mata terasa berat dirasakan mungkin effek dari kombinasi keduannya. Khawatir dan was-was singgah sejenak takut jika terjadi yang tidak-tidak. Penulis langsung tidur dan berdoa jika besok bisa bangun maka selamat lah jiwa ini. Benar atau tidak terkait itu, ternyata jiwa ini masih ditempatnya. Dari kejadian itu tak membuat penulis berhenti menyeruput sang kopi hitam pekat.

Penulis memiliki tips tersendiri untuk meminum secangkir kopi. Penulis selalu mengupayakan menggunakan gelas bening sebagai wadah sang kopi. Karena gelas mampu menjaga panas sang kopi lebih lama dari pada cangkir plastik. Setelah itu, masukkan gula satu seperempat sendok makan terlebih dahulu. Kemudian masukkan kopi satu setengah sendok makan. Memasukkan kopi terakhir ini tujuannya saat dituangkan air panas mengurangi ampas kopi lebih baik dari pada gula dituangkan terakhir setelah kopi.

Setelah dituangkan air panas, aduk kopi searah jarum jam. Aduk hingga anda melihat busa kopi berwarna coklat berkumpul ditengah tengah gelas, dan aduk sekitar 10 kali baru kemudian angkat sendok dan hirup aroma kopi anda, Sensasi nikmat bertambah sebelum di seruput. Tapi jangan langsung diminum, tahan sebentar hingga air di dalam gelas berhenti. Dengan komposisi kopi dan gula seperti itu, anda dapat melihat langsung kepekatan kopi seperti sedang menyedu secangkir coklat. Dan anda akan meminum kopi dengan rasa kopi bukan rasa gula.

Satu hal lagi, menggunakan kopi yang dibuat secara tradisional memiliki rasa kopi yang khas dan alami. Dan tentu anda harus coba kopi dari Lampung. Sampai saat ini hanya Kopi Lampung yang menjadi prioritas utama penulis.

Biasanya kopi belum sempurna tanpa batangan rokok di sampingnya. Agar lebih nikmat lagi, ambil ampas kopi dan oleskan di rokok baru kemudian keduanya dinikmati. Ide dan gagasan seperti muncul dihadapan kita dengan sendirinya setelah menikmatinya.

Kebiasaan penulis selalu meminum sang kopi setelah bangun tidur ataupun sesudah makan. Apalagi sedang ingin menggerakan jari-jari diatas keybord laptop, ide dan gagasan tak terbendung mengalahkan kecepatan jari tangan.

Itu lah sepenggal pengalaman dan tips menikmati sang kopi dari penulis.